Thursday, January 7, 2010

Gus Dur Meninggal karena Komplikasi Diabetes


Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Bangsa Indonesia dan dunia internasional kehilangan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Guru bangsa sekaligus simbol perdamaian antarsuku dan antaragama itu menghembuskan napas terakhir di usia 69 tahun pada Rabu (30/12) pada pukul 18.45 di kamar perawatan Atrium 2 Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta (RSCM), Jakarta.

Gus Dur tidak hanya meninggalkan keluarganya yang berkumpul di ruangan tersebut, kehilangan besar dirasakan oleh seluruh bangsa Indonesia.

Tim Dokter Kepresidenan mengatakan Gus Dur mengalami komplikasi gangguan diabetes, ginjal dan jantung. Dia masuk rumah sakit itu sejak Jumat (25/12). Pukul 11.30 kemarin, kondisinya memburuk. Selepas magrib kondisinya kritis, hingga berpulang.

Di saat-saat itu, tepatnya pukul 18.00 hingga 19.00, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membesuk. SBY bahkan ikut menyaksikan detik-detik terakhir Gus Dur menghadap sang pencipta. Sejumlah pejabat negara lainnya juga ada di saat-saat terakhir Gus Dur.

Diabetes, The Silent Killer


Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.

Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.

Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.

Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.

Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.

Gagai Ginjal Pemicu Kematian bagi Diabetisi

Ginjal adalah salah satu organ tubuh yang harus dirawat, perannya sangat penting dalam proses urinaria tubuh. Kerusakan ginjal dapat mengganggu sistem sekresi.

Didalam tubuh, ginjal berfungsi sebagai filter untuk membersihkan darah atau cairan lainnya. Fungsi itu bertujuan agar bahan-bahan kimia yang terkandung dalam darah atau cairan tubuh lainnya tidak terbawa kembali oleh darah dan beredar ke seluruh tubuh.

Sebagian kotoran hasil penyaringan itu nantinya akan dikeluarkan bersama air seni. Namun, sebagian lagi mungkin tertinggal dan mengendap menjadi batu ginjal. Apabila endapan itu tidak dikeluarkan, akan menetap di ginjal atau berpindah ke kandung kemih.

Jika ginjal tidak dirawat dengan baik maka rentan terhadap risiko gagal ginjal. Risiko itu juga dapat terjadi karena kelainan primer seperti infeksi ginjal, sumbatan batu ginjal, kelainan gagal ginjal dan komplikasi.

Pola makan seperti suka makan junkfood, banyak garam, hidup tidak seimbang juga bisa menyebabkan ginjal perlahan akan rusak.

Diabetes mellitus atau kencing manis merupakan salah satu penyebab terjadi komplikasi ginjal yaitu pada tahapan akut akan menyebabkan diabetisi gagal ginjal. Komplikasi gagal ginjal bagi diabetisi merupakan salah satu penyebab kematian terbesar bagi diabetisi.

Gagal ginjal akut yang merupakan gangguan ginjal mendadak yaitu ditandai dengan fungsi ginjal ”anjlok”, tidak keluar urin dan gagal ginjal kronik gangguan kronis atau menahun pada ginjal sehingga fungsi ginjal turun.

Sementara itu, gagal ginjal kronis terdapat gejala seperti lemas, nafsu makan, mual, pucat, kencing sedikit, sesak napas. Penyakit ginjal kronik biasanya tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, sehingga seringkali terlambat diketahui dan ditangani dengan tepat.

Gangguan batu ginjal juga akan menyebabkan timbulnya penyakit lain diantaranya pinggang terasa nyeri dan pegal-pegal.

Cuci Darah dan Cangkok Ginjal

Jika penyakit ginjal menjadi kronik dan ginjal menjadi tidak berfungsi ada beberapa hal yang terpaksa harus dilakukan yaitu cuci darah atau pencangkokan ginjal.

Cuci darah adalah tindakan medis yang dilakukan menggunakan mesin cuci darah atau biasa disebut hemodialisa. Mesin cuci darah itu berfungsi menyaring racun-racun dalam tubuh dan mengeluarkannya. Proses tersebut biasanya dilakukan seminggu dua kali dengan biaya yang sangat mahal sekali.

Sementara itu, pencangkokan ginjal pada prinsipnya adalah memindahkan ginjal sehat ke penderita gagal ginjal. Ginjal baru akan diletakkan di rongga ileum kemudian menyambungkan pembuluh darah ginjal baru dengan pasien, baru kemudian dengan (saluran kencing) ureter.

Berhasilnya pencangkokan ginjal baru ditandai dengan keluarnya air seni dari ginjal tersebut. Ginjal yang gagal biasanya tidak perlu diambil tapi bila menyebabkan infeksi maka ginjal tersebut perlu diangkat. Untuk operasi pengangkatan ginjal tersebut diperlukan waktu 2-3 jam. Operasi pencangkokan ginjal sendiri membutuhkan waktu 2-3 jam.

Keunggulan dari pencangkokan ginjal adalah tidak perlu repot dengan cuci darah hingga 2-3 kali dalam 1 minggu sehingga meningkatkan kualitas hidup.

Pencangkokan ginjal merupakan cara pengobatan gagal ginjal terbaik dimana satu ginjal sehat dapat menggantikan 2 ginjal sakit pada pasien gagal ginjal.

Ginjal hasil pencangkokan dapat bertahan selama 40 tahun bila dirawat dengan baik. Satu orang penderita gagal ginjal dapat melakukan pencangkokan ginjal maksimal 4 kali. Batas umur penerima donor ginjal pada pencangkokan bagi adalah 70-80 tahun.

Setelah pencangkokan ginjal, penerima donor harus minum obat yang biasa disebut anti tolak untuk jangka panjang. Obat ini berfungsi agar tubuh dapat menerima organ baru yang dicangkokkan. Dengan persiapan yang baik kemungkinan adanya penolakan ginjal sangat kecil. Jadi tubuh pasien dapat dengan mudah menerima ginjal yang dicangkok.

Agar terhindar dari cuci darah dan pencangkokan ginjal sebaiknya anda menjaga kesehatan ginjal dengan minum air putih yang cukup, hindari alkohol dan minuman yang membuat kinerja ginjal menjadi berat, berolah raga yang teratur dan makan makanan sehat.

Hidup normal dan tidak berlebihan serta cek urin secara rutin. Jangan sering menahan kencing karena itu dapat merusak kinerja ginjal.

Terapi Akupuntur Untuk Diabetes

Terapi akupuntur sudah umum dikenal di Cina untuk mengobati penyakit diabetes. Pada tahun 1994, Chen dkk melakukan penelitian terapi akupunktur terhadap 60 pasien. Sejumlah pasien tersebut mempunyai kriteria yang hampir sama, baik dari sisi gejala klinis maupun hasil pemeriksaan lab (hasil tes gula darah dan kencing). 60 pasien tersebut dibagi dlm dua kelompok secara acak, masing-masing (38) untuk kelompok perlakuan dan sisanya (22) adalah kelompok control. Kedua kelompok mendapatkan diet yang sama selama masa percobaan. Kelompok perlakuan diberikan terapi akupunktur pada titik-titik LI-11, Sp-6, St-36, Bl-20, LU-10,CV-4, GV-20, selama 30 hari bertutut-turut.

Hasilnya, 25 dari 38 pasien yang diterapi dengan akupuntur mempunyai kadar gula darah puasa = 130mg/dl sedangkan kadar gula darah 2 jam sesudah makan <= 150mg/dl. Pada 10 pasien terjadi perbaikan gejala klinis, GDP ,150mg/dl dan GD2JPP , 180 mg/dl. Sedangkan tiga pasien sisanya tidak memberikan respon.

Dalam penelitian tersebut lebih jauh dilaporkan bahwa terapi akupunktur pada pasien diabetes menghasilkan penurunan bermakna secara statistic pada kadar kolesterol darah, kadar trigliserida, dan beta lipoprotein. Penurunan yang sangat mencolok didapatkan pada kadar trigliserida darah dari 151 sampai mencapai 117, berarti mengalami penurunan sampai > 20 %.

Hou Al (1993) dalam penelitian menggunakan titik Sp-6 sebagai titik utama ditambah titik-titik feishu (BL-13), sanjiaoshu (BL-22), zuzsanli (ST-36), taixi (KI-3) ditambah shenshu (BL-23) pada 30 sampel pasien diabetes. Untuk satu seri terapi dilakukannya setiap hari selama 12 hari.

Dilakukan penusukan jarum pada titik tersebut di atas, setelah terasa deqi jarum dibiarkan tinggal selama 30 menit. Dia memperoleh hasil terbaik pada pasien dengan usia yang lebih muda dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada pasien yang berusia lebih tua. Criteria yang dipakai adalah penurunan gula darah menjadi normal atau mendekati normal. Untuk memperoleh hasil optimal, Hou Al melakukan antara 2-3 seri dengan selang waktu 2-3 hari istirahat, antara setiap seri terapi.

Pada percobaan yang dilakukan oleh Liu Zhicheng dan Sun Fengmin dari salah satu perguruan tinggi Traditional Chinese Medicine Nanjing (1994) menyampaikannya pada kesimpulan bahwa : terapi akupunktur pada pasien usia muda lebih baik hasilnya jika dibandingkan dengan kasus diabetes pada penderita usia tua. Demikian juga hasil terapi akan lebih baik pada kasus diabetes ringan daripada yang lebih berat.
Titik-titik yang digunakan

Dari penelaahan yang mendalam melalui beberapa sumber artikel Hu Hui (1995), peneliti dari RS Universitas Traditional Chinese Medicine Dongzhimen di Beijing, merangkum beberapa titik yang sering digunakan adalah :

  • feishu (BL-13),
  • pishu (BL-20),
  • shenshu (BL-23),
  • zusaanli (St-36),
  • sanyinjiao (Sp-6),
  • guanyuan (CV-4),
  • taixi (KI-3),
  • zhongwan (CV-12),
  • geshu (BL-17),
  • quchi (LI-11),
  • hegu (LI-4),
  • shenmen (HT-7),
  • neiguan (PC-6),
  • fuliu (KI-7).

Titik-titik akupuntur tersebut telah digunakan baik di Amerika maupun di Negara-negara lain di dunia.

Sumber : www.dr-rocky.com